Manajemen Waktu Mahasiswa yang Aktif dalam Organisasi

Oleh: Dewi Mahastuti, S.Psi., M.Si., M.Psi.,Psikolog

Perguruan tinggi merupakan sebuah wadah yang memberikan mahasiswa berbagai tugas, peran, dan tanggung jawab akademik maupun sosial yang lebih berat di lingkungan kampus. Menurut Ali (2019) Mahasiswa merupakan pembelajar yang belajar secara formal pada salah satu program riset di jenjang akademi tertinggi. Tiap orang yang tercatat, selaku mahasiswa memiliki sesuatu kewajiban yang wajib dipatuhinya. Menurut Sudarman (dalam Ginting & Aziz, 2014), salah satu kewajiban mahasiswa merupakan mematuhi seluruh peraturan ataupun syarat yang berlaku pada perguruan tinggi yang bersangkutan semacam melaksanakan aktivitas belajar- mengajar serta mengerjakan tugas akhir, disamping bidang akademik mahasiswa juga diharapkan dapat mengembangkan kemampuannya di bidang non akademik seperti mengikuti organisasi kemahasiswaan. Kemampuan non akademik yang biasa dikenal dengan soft skill merupakan salah satu faktor yang cukup berperan dalam keberhasilan mahasiswa di dunia kerja, sehingga mahasiswa diharapkan dapat sukses di bidang akademik dan non akademik. Hal tersebut menuntut mahasiswa dapat membagi waktu dengan baik antara tugas kuliah dan tugas organisasi. Banyak mahasiswa yang tidak ingin mengikuti organisasi karena beranggapan bahwa dengan banyaknya tugas kuliah pastinya sudah sangat sibuk, sehingga tidak memiliki waktu yang cukup untuk melakukan kegiatan lain, misalnya waktu bermainnya berkurang. Tidak semua mahasiswa berpikiran demikian, ada juga mahasiswa yang menyadari kepentingan untuk berorganisasi.

Konsekuensi mahasiswa aktif pada kedua hal tersebut adalah kemampuannya dalam membagi waktu, karena bila kurang cakap dalam membagi waktu akan berdampak pada kuliahnya yang berantakan, prestasi nilai yang rendah dan molornya waktu kuliahnya.  Namun bila mahasiswa mampu melakukan manajemen waktu dengan baik maka mahasiswa tersebut akan berhasil dalam kuliahnya dan terampil dalam  berorganisasi.  Menurut Caesari (2013) setiap mahasiswa yang aktif pada organisasi dituntut akan bisa mengatur dan mengendalikan waktu yang dimiliki untuk menghadapi tugas-tugas kuliah ataupun aktivitas-aktivitas pada organisasi yang diikuti. Tetapi mahasiswa terkadang mengabaikan pentingnya disiplin dalam mengatur waktu. Perilaku tersebut membuat mahasiswa kesulitan untuk hadir dalam jadwal kegiatan organisasi atau perkuliahan yang telah disusun, sehingga akan memunculkan perilaku negatif seperti prokrastinasi. Karena itu dalam berorganisasi mahasiswa harus belajar untuk memanajemen waktunya, mengatur prioritas, serta membuat jadwal agar semua kegiatan dapat di kendalikan dengan baik.

Mahasiswa yang menjadikan organisasi sebagai wadah untuk mencari berbagai pengalaman untuk bekal dalam melamar sebuah pekerjaan antara lain melatih kepemimpinan, manajemen waktu, memperluas relasi, mengasah publik speaking, problem solving dan manajemen konflik. Pengalaman-pengalaman tersebut memang hanya bisa didapat ketika

mahasiswa aktif mengikuti kegiatan keorganisasian. Keaktifan tersebut akan mengasah soft skill dan hard skill yang dimiliki mahasiswa, sehingga ia dapat percaya diri dalam berbagai kegiatan yang dihadiri maupun ketika mendaftar pekerjaan.

Keaktifan tersebut akan mengasah soft skill dan hard skill yang dimiliki mahasiswa, sehingga mahasiswa dapat percaya diri dalam berbagai kegiatan yang diikuti maupun ketika mendaftar pekerjaan. Keaktifan mahasiswa dalam organisasi tidak hanya memberikan dampak positif, melainkan ada dampak negatif lain seperti, stress karena banyaknya tugas yang menumpuk, telat dalam mengikuti kelas, dan ketegangan karena adanya tanggung jawab yang lebih. Mahasiswa harus mengelolah semua tugas-tugas dan tanggung jawab tersebut. Perilaku yang seharusnya dilakukan mahasiswa sejak awal adalah memanajemen waktunya sebaik mungkin. Semakin baik manajemen waktu yang dilakukan maka dapat meminimalisir dampak negatif dari keaktifan dalam organisasi. Waktu harus dikelola dengan baik, sehingga tiap mahasiswa tahu kapan dapat menghabiskan waktu dengan percuma serta mengetahui kapan harus produktif

Manajemen waktu sendiri memiliki peranan penting dalam kegiatan belajar, karena pengaturan waktu yang tepat dapat memaksimalkan cara belajar bahkan dapat memberikan semangat lebih bagi mahasiswa dalam menyelesaikan studinya. Menurut Ginting & Azis (2014) dijelaskan bahwa manajemen waktu yang baik adalah penggerak dan pendorong bagi individu untuk belajar sehingga individu lebih semangat dan tidak lekas bosan saat belajar dengan materi yang dipelajari sehingga dapat meningkatkan motivasi untuk berprestasi dan menyelesaikan studi. Manajemen waktu meliputi penetapan tujuan serta prioritas, menyusun jadwal, bersikap asertif, menghindari penundaan dan meminimkan waktu terbuang. Jika mahasiswa mampu melakukan pengaturan waktunya dengan baik, khususnya terkait aktivitas perkuliahan, maka ke depannya aktivitas kuliah bisa dilakukan dengan baik serta bisa diselesaikan tepat waktu. Pengaturan waktu yang baik ini dikenal dengan manajemen waktu.

Manajemen Waktu

Menurut Gasim (2016) menyatakan bahwa manajemen waktu merupakan keterampilan yang dimiliki individu berkaitan dengan segala bentuk upaya dan tindakan individu yang dilakukan secara terencana agar individu tersebut dapat memanfaatkan waktunya dengan sebaik-baiknya. Menurut Covey (dalam Rusyadi, 2012) menyatakan bahwa manajemen waktu tidak dapat dilepaskan dari manajemen diri. Manajemen diri bisa diartikan sebagai cara individu mengorganisir kehidupanya dengan prinsip mendahulukan yang harus dilakukan terlebih dahulu (skala prioritas). Pernyataan senada di ungkapkan oleh Macan (dalam Aprilia, 2016) bahwa

Manajemen waktu adalah pengelolaan waktu dimana individu menetapkan terlebih dahulu kebutuhan dan keinginan kemudian menyusunnya berdasarkan segi urutan kepentingan. Berdasarkan pernyataan tersebut, dapat dikatakan bahwa manajemen waktu adalah kemampuan pertimbangan penggunaan atau memanfaatkan waktu untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan individu dengan menggunakan skala prioritas sebagai penentu dalam mengerjakan atau melakukan suatu kegiatan.

Ciri-Ciri Individu yang Mampu Manajemen Waktu

Menurut Davidson (dalam Gasim, 2016) menyebutkan individu-individu yang menerapkan prinsip-prinsip manajemen waktu memiliki ciri-ciri tertentu, yaitu:

  1. Mampu menetapkan tujuan. Menetapkan tujuan dan mencapai tujuan merupakan bagian yang paling utama dalam pengaturan waktu. Maka individu akan sangat mudah untuk mengetahui dari mana harus memulai pekerjaan. Selain itu, memudahkan untuk memutuskan apa yang penting dan perlu untuk dilakukan. Sehingga, akan terhindar dari perilaku yang membuang waktu.
  2. Mampu mengidentifikasi prioritas. Tugas dan tanggung jawab yang di terima berdampingan. Jika individu bisa mengidentifikasi prioritas dari tugas-tugas tersebut, maka akan memudahkan untuk mencapai tujuan. Dalam menentukan prioritas, perlu membuat kategori yaitu: tugas mendesak dan tugas penting.
  3. Mampu membuat jadwal. Membuat jadwal kegiatan merupakan salah satu contoh manajemen waktu yang baik. Individu yang membuat jadwal untuk aktivitasnya dapat membantu menyelesaikan dan melakukan kegiatan, tugas, bahkan pekerjaannya.
  4. Mampu melakukan pekerjaan dengan terorganisir. Individu yang melakukan pekerjaan secara terorganisir merupakan pekerjaan yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memiliki jadwal dan perencanaan, individu dapat mengatur segala aktivitasnya dengan mudah. Individu yang melakukan kegiatan atau tugasnya secara terorganisirakan terlaksana dengan baik dan akan mencapai tujuan yang diharapkannya.
  5. Mampu meminimalkan interupsi. Interupsi merupakan gangguan yang bersumber dari dalam diri individu maupun dari luar diri individu yang mengurangi konsentrasi individu dengan pekerjaannya. Individu yang memiliki manajemen waktu baik dapat meminimalkan interupsi tersebut.
  6. Mampu mengelola stress. Individu pasti berhadapan dengan situasi atau kondisi yang membuat individu tersebut stress. Aktivitas-aktivitas yang dilaksanakan tidak sesuai dengan jadwal dan tidak sesuai dengan rencana maka individu yang mengalami stress, serta tidak mampu memprioritaskan aktivitas-aktivitas yang sifatnya lebih penting.

 

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Manajemen Waktu

Rahardi (dalam Rusyadi, 2012) menjelaskan beberapa faktor yang menentukan tercapainya proses manajemen waktu mahasiswa, antara lain:

  1. Faktor dalam diri yang melakukan kesalahan. Faktor ini menjadi faktor utama. Dalam faktor ini dijelaskan bahwa manusia tidak lepas dari kesalahan, maka dengan memanajemen manusia dapat mengurangi kesalahan yang dilakukan seperti di masa lampau.
  2. Faktor pandangan hidup. Faktor ini menjelaskan bahwa individu yang memiliki pandangan hidup maka akan memiliki motivasi dalam mengerjakan suatu kegiatan
  3. Faktor lingkungan kampus. Faktor ini menjelaskan bahwa kampus merupakan tolak ukur kreativitas mahasiswa, dengan fasilitas yang memadai mahasiswa dapat belajar otodidak ilmu yang tidak dipelajari di bangku kuliah dan membantu mempersingkat belajar kognitif mahasiswa.

 

Dampak Positif Kemampuan Manajemen Waktu Fosyth (dalam Aprilia, 2016) menyatakan bahwa dampak penggunaan manajemen waktu yang baik, antara lain:

1. Memiliki prioritas yang jelas dalam bekerja.
2. Mengurangi keterlambatan dan kesalahan dalam bekerja.
3. Tepat waktu dalam melakukan suatu pekerjaan sehingga dapat meningkatkan kepuasan kerja.
4. Mampu untuk tetap berkonsentrasi terhadap pekerjaan sehingga dapat meningkatkan produktivitas kerja.
5. Melatih kedisiplinan terhadap waktu sehingga pekerjaan yang dilakukan akan lebih efisien.

 

Mahasiswa yang Aktif Dalam Organisasi

Menurut Fajar & Effendy (dalam Alfiana, 2013) mengungkapkan bahwa kegiatan mahasiswa mengalami perbedaan yang kemudian memunculkan beberapa tipe mahasiswa, diantaranya adalah mahasiswa utuh (mahasiswa yang unggul dibidang akademik saja), mahasiswa unjuk diri (maha siswa yang aktif dalam kuliah dan organisasi), serta mahasiswa “asal katut (mahasiswa yang menganggap bahwa kuliah itu tidak penting)”. Berdasarkan pernyataan diatas dapat dijelaskan bahwa dalam perkuliahan terdapat berbagai macam tipe mahasiswa. Tipe- tipe mahasiswa ini di dasarkan pada kegiatan yang Individu lakukan seperti keaktifannya dalam organisasi karena ingin mengasah dan mengembangkan skill, kuliah langsung pulang, ataupun kuliah hanya sekedar ingin menambah relasi.

Menurut Huang dan Chang (2004) menjelaskan bahwa mahasiswa yang aktif dalam kegiatan akademik dan kokurikuler memiliki manfaat dalam penguatan kemampuan berpikir, kemampuan komunikasi, kemampuan interpersonal, dan kepercayaan diri. Sedangkan menurut Kurniawati & Leonardi (2013) Mahasiswa yang aktif dalam organisasi merupakan mahasiswa yang memiliki tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan kegiatan di dalam lingkup perkuliahan baik yang bersifat fisik maupun mental.

Menurut Ichwal (dalam Mufidah, 2019) Organisatoris merupakan julukan untuk mahasiswa yang berperan aktif dan memiliki peran atau tanggung jawab di dalam organisasi tersebut. Mahasiswa yang memiliki dua tanggung jawab yaitu kuliah dan menjadi pengurus di organisasi membuatnya harus mengatur waktunya agar dapat seimbang di kedua peran tersebut. Mahasiswa yang mengikuti organisasi harus mau mengorbankan tenaga, pikiran, materi, dan waktu untuk melaksakan tugas di organisasi yang diikuti.

Menurut Priambodo dan Sarwono (dalam Leny & Suyasa, 2006), Mahasiswa yang aktif dalam organisasi memiliki beberapa ciri-ciri antara lain: senang menghabiskan waktu dengan berbagai kegiatan kemahasiswaan. Mahasiswa yang aktif dalam organisasi kemahasiswaan hampir selalu ingin terlibat dalam kepengurusan harian maupun kepanitiaan berbagai kegiatan dan acara yang diadakan organisasinya. Individu bersedia untuk terlibat aktif mendorong pelaksanaan berbagai kegiatan dalam organisasi tempatnya bergabung. Ciri-ciri selanjutnya yaitu cenderung sering duduk-duduk dan berbincang-bincang di ruangan atau kantor organisasi kemahasiswaan yang diikuti. Mahasiswa-mahasiswa yang aktif dalam organisasi kemahasiswaan cenderung lebih banyak meluangkan waktunya untuk berkumpul di ruangan atau kantor organisasi sambil duduk-duduk dan berbincang-bincang dengan sesama anggota organisasi lainnya mengenai informasi yang berkaitan dengan organisasi yang diikuti maupun mengenai isu-isu yang beredar di lingkungan luar atau masyarakat.

Pernyataan senada di ungkapkan oleh Sarwono (dalam Leny & Suyasa, 2006), yang mengemukakan bahwa mahasiswa yang aktif dalam organisasi kemahasiswaan cenderung lebih banyak menggunakan waktunya untuk hal-hal yang sifatnya non-akademis. Individu lebih banyak menggunakan waktu luangnya untuk berkumpul dan berdiskusi tentang berbagai hal yang menyangkut keorganisasian dibandingkan untuk memikirkan tugas-tugas perkuliahan. Priambodo (dalam Leny & Suyasa, 2006) berpendapat bahwa mahasiswa yang aktif dalam organisasi kemahasiswaan, khususnya yang memegang jabatan sebagai pemimpin, cenderung mempunyai wawasan yang luas tentang perkembangan dunia luar maupun tentang hal-hal yang terjadi di seputar kampus. Sarwono, (dalam Leny & Suyasa, 2006) Di samping memiliki wawasan yang luas, mahasiswa yang aktif dalam organisasi kemahasiswaan juga cenderung memandang segala sesuatu secara kritis. Individu cenderung lebih peka dan lebih kritis terhadap perkembangan kejadian-kejadian di lingkungan luar, misalnya perkembangan keadaan politik di dalam maupun luar negeri. Berdasarkan pernyataan dari tokoh diatas dapat disimpulkan bahwa mahasiswa yang aktif dalam organisasi memiliki ciri-ciri antara lain, senang menghabiskan waktu dengan berbagai kegiatan kemahasiswaan, selalu ingin terlibat dalam kepengurusan harian maupun kepanitiaan, aktif mendorong pelaksanaan berbagai kegiatan dalam organisasi tempatnya bergabung, cenderung berbincang dengan teman organisasi dan cenderung memiliki wawasan luas serta lebih peka dan kritis.

 

Daftar Pustaka

  • Alfiana, A. D. (2013). Regulasi diri mahasiswa ditinjau dari keikutsertaan dalam organisasi kemahasiswaan. Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan, 1(2), 245-259.
  • Ali, D. C. (2019). Studi deskriptis kuantitatif gambaran manajemen waktu pada mahasiswa pengurus ORMAWA Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Disertasi. Tidak dipublikasikan.
  • Aprilia, A. D. (2016). Hubungan antara manajemen waktu dengan performansi kerja pada mahasiswa yang bekerja di PT. X Yogyakarta. Skripsi. Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. Retrieved from https://repository.usd.ac.id/7389/2/109114050_full.pdf
  • Caesari, Y. K., & Listiara, A. (2013). “Kuliah versus organisasi” studi kasus mengenai strategi belajar pada mahasiswa yang aktif dalam organisasi mahasiswa pecinta alam universitas diponegoro. Jurnal Psikologi, 12(2), 164-175.
  • Gasim, G. (2016). Hubungan Kemampuan Manajemen Waktu dengan Kebiasaan Prokrastinasi Penulisan Skripsi Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Angkatan 2011 dan 2012. Skripsi. Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
  • Ginting, M. N. K., & Azis, A. (2014). Hubungan antara Lingkungan Belajar dan Manajemen Waktu dengan Motivasi Menyelesaikan Studi. Analitika: Jurnal Magister Psikologi UMA, 6(2), 91-97.
  • Huang, Y. & Chang, S. (2004). Academic and cocurricular involvement: Their relationship and best combinations for student growth. Journal of College Student Development, 45 (4), 391-406.
  • Mufidah, F. A. (2019). Manajemen Waktu pada Mahasiswa Aktivis Organisasi. Disertasi. Tidak dipublikasikan
  • Rusyadi, S. H. (2012). Hubungan antara manajemen waktu dengan prestasi belajar pada mahasiswa (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Surakarta).
  • Kurniawati, R., & Leonardi, T. (2013). Hubungan antara metakognisi dengan prestasi akademik pada mahasiswa fakultas psikologi universitas airlangga yang aktif berorganisasi di organisasi mahasiswa tingkat fakultas. Jurnal Psikologi Pendidikan dan Perkembangan, 2(01), 1-6.